Berita

Tujuh Faktor Mempengaruhi Harga Komoditi Karet

PALEMBANG.JARRAKPOSSUMATERA – Fluktuasi harga karet tentunya tidak terlepas dari dinamika harga karet dunia. Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan Rudi Arpian.

Menurut, Rudi terdapat tujuh variabel yang mempengaruhi harga karet di tingkat Intersional, diabtaranya supply dan demand di pasar karet Internasional.

Rudi memaparkan, produksi karet alam dunia berasal dari enam negara penghasil karet alam yaitu Thailand, Indonesia, Vietnam, India, China dan Malaysia dengan pangsa pasar 85,1 persen. 

“Negara produsen baru muncul belakangan seperti Myanmar, Laos dan Cambodia. China dan India masih merupakan negara net importir.  Sementara permintaan atas karet global masih didominasi China, Eropa Barat, Amerika Serikat. Asia Tenggara, dan Asia Selatan,” tutur Rudi.

Selain itu, lanjut Rudi, regulasi penggunaan karet di China dapat mempengaruhi harga karet dunia. Karena China mendominasi permintaan akan karet alam global dengan pangsa 40,5 persen dari konsumsi global.

“Pertumbuhan ekonomi China menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap permintaan karet alam. Regulasi yang terjadi di China akan sangat berpengaruh sangat kuat terhdap harga karet dunia,” jelas dia.

China, tambah Rudi, merupakan konsumen terbesar otomotif yang menjadi tumpuan konsumen karet melalui industri ban. Situasi yang terjadi di China saat ini dengan adanya fenomena perang dagang dengan Amerika mengakibatkan terjadinya stagnasi pertumbuhan ekonomi di China yang berdampak pada menyusutnya permintaan karet alam di China.

“Selain untuk konumsi dalam negeri, China juga mengekpor barang jadi antara lain ke Amerika yang saat ini mengalami hambatan,” ungkapnya.

Selanjutnya, masih kata Rudi, harga karet di pasar berjangka Internasional. Harga karet yang terbentuk  di Singapura (SICOM) menjadi acuan transaksi oleh para pelaku bisnis karet alam. Selain bursa SICOM, bursa Tokyo (TOCOM), dan Sanghai Future Exchange juga memiliki peran dalam pembentukan harga karet alam dunia.

“Sudah lama disinyalir bahwa mekanisme pembentukan harga (Price Discovery Platform) di SICOM tidak sepenuhnya mencermintan faktpr fundamental supply dan Demand karet alam dunia,” tuturnya kepada jarrakpossumatera.com.

Keempat, lanjut Rudi, karet sintetis merupakan substitusi. Karet sintetik, kata dia, dalam batas tertentu merupakan substitusi karet alam. Namun secara agregat karet sintetik dengan karet alam bersifat komplementer. Dalam satu unit ban pasanger car terdapat karet alam dan karet sintetis secara bersama-sama di dalam bagian yang berbeda untuk saling memperkuat produk yang dihasilkan.

“Seyogyanya jika harga minyak bumi yang menjadi bahan baku karet sintetis naik maka harga karet alam juga mengalami kenaikan. Dalam beberapa tahun terakhir harga minyak bumi dengan harga karet alam memiliki korelasi yang semakin melemah,” jelas dia .

Perkembangan Industri Otomotif dan Ban, lanjutnya, juga menjadi faktor. Karet alam dikonsumsi, tambahnya, sebanyak 70 persen untuk industri ban dunia yang merupakan komponen dari industri otomotif. Industri otomotif sendiri merupakan industri yang tergolong barang mewah yang sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi global.

“Pasar saat ekonomi global menurun umumnya secara serta merta permintaan akan mobil dan mobilitas orang menggunakan mobil semakin berkurang yang berdampak pada menurunnya permintaan akan karet alam,” paparnya.

Kemudian, tambahnya, faktor-faktor alam. Faktor iklim dan gangguan kondisi alam lainnya turut berpengaruh terhadap supply karet yang selanjutnya dapat mempengaruhi karet alam dunia. Pada tahun 2017 terjadi bencana banjir di Thailand dalam skala yang cukup besar sehingga petani sama sekali tidak bisa melakukan penyadapan. Kondisi ini berakibat ketatnya pasokan karet alam ke pasar global yang berdampak pada naiknya harga karet alam.

“Saat ini terjadi serangan penyakit gugur daun Pestalotiopsis SP yang menyebabkan turunnya produksi karet alam secara signifikan di atas 15 persen,” ujarnya.

Dilaporkan, penurunan produksi karet di tiga negara ITRC hingga Agustus 2019 diperkirakan telah mencapai 480 ribu ton. Namun sayang belum atau tidak berdampak pada kenaikan harga.

“Kemungkinan besar sentimen negatif dari slowing down ekonomi masih mendominasi pasar,” paparnya.

Kurs Valas, tambah Rudi, juga salah satu faktor penyebab fluktuasi harga karet. Di pasar Internasional harga komoditas memiliki hubungan dengan kurs currency regional terhadap US dolar. 

“Apabila penguatan kurs dolar menjatuhkan nilai tukar mata uang lain maka akan berpengaruh terhadap harga karet dunia,” pungkasnya.

Jarrakpossumatera.com/Danu
Editor: uta/ariyadi ahmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *