Connect with us

Uncategorized

JURANG KUBANG

Published

on

ADA yang tahu Petungkriyono? Negeri “ngatas angin” Kabupaten Pekalongan. Pada tahun 1986, jangankan “micin”, mie instan saja masih begitu asing. Tak ada ukuran liter minyak goreng, melainkan “irisan”. Betapa dinginnya daerah itu. Letak geografislah yang menyebabkan daerah itu terisolasi dari dunia luar. Jangan heran kalau Indonesia Merdeka baru diketahui tahun 1946.
Perkebunan teh dan tembakau itu juga bangsa Belanda juga Jepang bergantian mendudukinya.

Simega, salah satu desa di kecamatan Petungkriyono benar di atas mega, wilayah tertinggi berbatas kabupaten Banjarnegara. Di desa Simega itulah dusun Kubang dengan jurang teramat dalam, berada.

Bermula dari sini!

Draji, pemuda asal dusun Kubang hidupnya mengikuti kemana asap bertiup.
Tidak terkendalinya “tata niaga” tembakau mengakibatkan kerugian besar bagi Belanda. Protespun dilakukan pada Sri Sultan Hamengkubowono VIII. Tahun 1930 pengalihan lahan tembakau daerah Kedu dan sekitarnya ke daerah Ngayogyakarto; Kalasan, Siluk hingga Wonosari Gunung Kidul. Draji muda meninggalkan dusun Kubang yg selalu berasap kabut mengikuti asap tembakau bertiup.

Mengikuti para pialang tembakau/grider, berpindah berbagai kota, numpang singgah rumah yang satu ke rumah yang lain, sebagai buruh. Th 1935, Draji terpikat oleg gadis asal Tulung Agung, buruh pabrik gula Madukismo. Menikahlah mereka. Atas keinginan istri yang kemudian hamil agar saat melahirkan nanti dekat dengan orang tuanya, angin membawa Draji ke Tulung Agung. Lahirlah anak laki laki dan diberi nama Caswari, Wari nama panggilannya. Kali ini bukan angin yang membawa Draji melainkan angin yang memaksanya harus hengkang dan kembali ke Jogya. Istrinya, ya ibunya Wari terjangkit penyakit cacar, bersama penderita lain dibakar hidup2 oleh serdadu Belanda. Kekejaman yang terbungkus sangat lama.

Draji dan Wari, anaknya tak terpisahkan. Tak hanya Jogya mereka singgah, namun juga Klaten, Surakarta berbalik ke barat; Muntilan, Magelang hingga Ambarawa. Tak hanya mengikuti asap tembakau, asap kabut pagi hari buruh angkut di pasar diikutinya juga asap serbuk mesiu yg selalu ada dalam setiap pergolakan jaman pendudukan Belanda hingga Jepang.
Caswari benar benar kehilangan masa kanak kanaknya. Ini yang tidak disadari Draji. Tak punya tempat tinggal tetap dan selalu berpindah, bekerja dan berperang melawan kesewenang wenangan para saudagar juga melawan bangsa Belanda dan Jepang.

17 Agustus 1945, Teks Proklamasi dibacakan.

Bangsa Jepang menyerah kalah pada Sekutu menutup semua stasiun radio menyembunyikan kekalahan. Inilah yg nenyebabkan warta kemerdekaan tidak begitu saja dengan mudah diketahui seluruh masgarakat Indonesia. Jangankan luar Jawa, Jogyakata dan Jawa Tengah, berita Kemerdekaan hanya terdengar di kota besar. Para “founding father” berusaha keras berita kemerdekaan disebar luaskan sembari melucuti persenjataan Jepang yg masih berdiam diberbagai pelosok. Thn 1946 dikumpulkan para relawan yg berasal dari daerahnya sendiri untuk segera menyebarluaskan meski Teks Proklamasi dibacakan setahun yang lalu.

Teringat dusun Kubang yang cukup lama ditinggalnya. Kesempatan terbaik untuk kembali ke Kubang. Draji ikut mendaftar sebagai relawan.
“Pak…ojo pindah maneh ya (Pak, jangan pindah lagi ya),” rengek Wari yg sangat memelas.
“Aku ra duwe kanca, angger2 mung karo bapak , angger2 ketemu kanca2ne bapak (Aku tak punya teman, hanya sama baak, tiap kali hanya ketemu teman teman bapak),” tambahnya. Draji-pun tertunduk lesu, menyadari selama ini tak memperhatikan anaknya. Baru kali ini juga Wari merengek meminta. Kesalahan terbesar, itulah yg dirasakan Draji.
“Wari…bapak janji, nek wis tekan Kubang mengko ora pindah maneh, bapak janji ( Wari, bapak janji setelah sampai Kubang nanti tidak akan pindah lagi, bapak janji),” meyakinkannya.
“Adoh pak? (Jauh pak?).
“Ora, paling mlaku seka Banjarnegara 6 tekan 8 jam suwene, Wari anake bapak kan kiyeng (Tidak, jalan kaki dari Banjarnegara 6 s/d 8 jam lamanya, Wari anak bapak kan kuat),” kata Draji.
“Nek wis tekan Kubang mengko tak ajak “nggedhik” mburu kemin/celeng ( Sesampainya di Kubang nanti aku ajak berburu babi hutan),”lanjutnya.
Berbinarlah Caswari saat mndengar mburu celeng.

Berangkatlah bersama para relawan sejurusan arah Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara dan Purbalingga. Tersebarlah mereka dipos tertentu dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Saat yg ditunggu Wonosobo dilewati, sampailah Banjarnegara-Karang Kobar dan truk berhenti di Wanayasa. Turunlah Draji dan Caswari, berbekal beberapa potong pakaian, sedikit makanan dan minum juga sepucuk senjata pistol untuk berjaga jaga. Uang hasil tabungan pasti juga dibawanya. Dirasa paling aman, dipilihnya jalur Sibebek, Kalideres, Gumelem nyebrat potong jalan arah Simega lantas turun dusun Kumenyep kemudian Kubang. Sangat riskan lewat Kalibening, terlebih lewat Batang, Ndoro Pekalongan dan Lebak Barang, disamping jauh juga masih bergolaknya Peristiwa Tiga Daerah. Tak banyak berubah daerah itu meski puluhan tahun ditinggalkannya, yg membedakan cuma bertambahnya pohon pinus. Sibebek, Kalideres terlewati dan tibalah di desa Gumelem. Nyebrat potong jalan kearah Simega. Jalan setapak terus menanjak terutup pepohonan yg sangat lebat. Beristirahat Draji dan Wari ditempat yg agak datar, makan dan minum bekal tersisa. Kembali asap pekat menyelimuti Draji dan Wari. Disitu juga tempat persembunyian sisa sisa serdadu Jepang yg takut ditangkap tentara Sekutu. Perkelahian tak seimbang terjadi. Caswari, anak yg baru menginjak usia 11 tahun tersungkur, dadanya tertusuk bayonet. Perkelahian terhenti setelah salah satu tentara Jepang berbaju perwira berteriak sambil menampar tentara ya menusuk Caswari dengan bayonett. Draji menangkap tubuh Caswari yg sudah berlumuran darah. Pasrah. Hanya itu yang bisa dilalukan Draji sembari memeluk erat tubuh Wari yg nafasnya mulai tersengal sengal. Meski tersengal bibir Wari membuka dengan suara yang sangat lemah, berbisik;
“Pak…ojo pindah ya pak, aku kangen ibu (Pak jangan pindah ya pak, aku kangen ibu.” Begitulah kalimat terakhir Caswari.

Dibopongnya Caswari oleh tentara Jepang bergantian menuju dusun Kubang. Bersama Draji tentu saja. Sesampainya Kubang, bersama warga dikuburkan Caswari dg tata cara masyarakat setempat. Begitu selesai Caswari dikuburkan, sang perwira dan tentara yg menusuk Caswari, bersimpuh mengambil “tanto”/ “katana” pendek lantas “harakiri”, seppuku” menusuk perutnya sendiri.

MEGATRUH
Tong Caswari jasadira ngawang uwung
Jo nangis kawanti wanti
Megane wus katon mendung
Mbatiri minggah ing swargi
Hangadep ngarsa Hyang Manon

Catatan: kuburan itu yg nantinya disebut kuburan Jepang, ada yg menyebut kuburan Landa ada juga yg menyebut sebagai kuburan Budha.

Editor :Ariyadi Ahmad

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

FRONT MAHASISWA PALEMBANG PECAT ERICK THOHIR

Published

on

By

Palembang, Jarrakpossumatera.com,- Indonesia adalah negara dari berbagai Macam Suku Bangsa. yang banyak memiliki perbedaan tapi tidak berarti mengalami kemunduran. Potensi dan kemampuan Generasi Bangsa harus nya dijunjung tinggi dan dihargai oleh Pemimpin dan pejabat Negara . apakah Indonesia sudah kekurangan orang orang Hebat, sehingga Bapak Mentri BUMN yang terhormat lebih memilih Warga Negara Asing untuk menjadi direksi dan Komisaris di BUMN dari pada generasi Indonesia sendiri. kami dari front Mahasiswa Palembang mengecam keras dengan segala kebijakan Mentri BUMN dalam kebijakan nya.

1 Erick Thohir Mengangkat WNA menjadi Direksi dan Komisaris BUMN, adalah langkah mundur dan blunder bagi bangsa ini dan bagi Pemerintahan Jokowi.

  1. Erick Thohir tidak percaya pada kemampuan bangsa sendiri, itu adalah sikap dan cara berpikir orang yg bermental inferior.
  2. Kami Mahasiswa merasa tersinggung dan merasa bahwa Erick Thohir tidak menghargai Anak Bangsa kita.
  3. WNA menjadi direksi dan komisaris BUMN, tidak menjamin BUMN akan maju. Tidak menjadi jaminan ukuran profesionalitas dan kehebatan keahlian mereka.
  4. Janji Pemerintahan Jokowi periode kedua, untuk membangun SDM yg unggul, akhirnya menjadi omong kosong belaka.
  5. Karena itu, kami Mahasiswa Indonesia menyatakan sikap:
  • Pecat WNA yang menjadi Direksi dan Komisaris BUMN
  • Pecat Erick Thohir, Menteri yang bermental Inferior dan membiarkan BUMN dikelola orang asing.

Kami dari Front Mahasiswa Palembang menolak dan mengutuk keras kebijakan Erich Thohir yang Mengangkat WNA menjadi Direksi dan Komisaris BUMN, adalah langkah Mundur dan Blunder bagi Bangsa ini dan bagi Pemerintahan Jokowi.
kami sebagai generasi bangsa merasa tersinggung apakah di negeri kami sudah tidak lagi orang orang yang berpotensi untuk menjadi Direksi dan Komisaris di BUMN .

  • Pecat WNA yang menjadi Direksi dan Komisaris BUMN
  • Pecat Erick Thohir, Menteri yang bermental Inferior dan membiarkan BUMN dikelola orang asing.

PALEMBANG 27 JUNI 2020

KAMI YANG TERGABUNG FRONT MAHASISWA PALEMBANG

Sumber : Presrilis FMP

Editor : DN

Continue Reading

Berita

KRASS dan STN Minta Segera Selesaikan Konflik Agraria di Sumatera selatan

Published

on

By

Palembang, Jarrakpossumatera. com|Komite Reforma Agraria Sumatera Selatan (KRASS) bersama Serikat Tani Nasional (STN) menggelar Konferensi Pers melalu media Zoom Meeting terkait pembunuhan, penganiayaan, penangkapan/kriminalisasi dan penyiraman air keras kepada Petani yang berjuang keadilan hak atas tanah. Senin (22/6/2020).

Dedek Chaniago Sekretaris Jendral KRASS mengatakan belum habis jasad 2 petani Kabupaten Lahat Desa Pagar Batu dalam kubur menyatu dengan tanah, belum sembuh total luka penganiayaan juga petani pagar baru, belum keluar 4 petani/warga Palembang yang dipenjara, serta 4 petani di Muaraenim Desa Tanjung Agung baru-baru ini ditangkap. “Kemudian 2 hari yang lalu, Petani Oku Timur Desa Campang tiga ulu (Anggota STN Oku Timur) yang sedang berjuang keadilan hak atas tanah melawan PT. LPI (perkebunan tebu) di siram air keras oleh orang tak dikenal” terang Dedek.

Dedek menambahkan peristiwa di atas adalah kesemuanya itu masuk dalam persoalan konflik agraria yang KRASS dampingi bersama serikat tani yang menyatu dalam KRASS. Ada 9 Kasus 7 Kabupaten (Muba Desa Sumber Mulya. OKI Desa Jerambah Rengas, Tulung Seluang, Lebung Hitam, Riding, Tirtamulya, Marga Tani. Muaraenim Desa Karang mulya, Sumber mulya, Pagar dewa, Karang agung, Tanjung Agung. Lahat Desa Pagar batu. Empat Lawang Desa Tanjung kupang baru, Sugi waras. Muratara Desa Tebing tinggi. Oku Timur Desa Campang Tiga ulu. Palembang Kelurahan Alang-alang lebar) sedang berproses penyelesaian di Kanwil ATR/BPN SumSel. Namun sudah 7 bulan belum juga ada 1 pun yang bisa diselesaikan atau di tuntaskan”.

Lebih Jauh Dedek memaparkan
“Penyebab dari Konflik Agraria adalah perebutan Sumber Daya Alam untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan rasa keadilan. Data dari KRASS, luasan lahan di Sumatera Selatan 9jt hektar, 6jt nya dikuasai oleh Korporasi (perusahaan) dan hanya 1jt hektar saja masyarakat memilikinya”. Terang Dedek

Sementara Itu Muhammad Asri Lambo Ketua STN Sumatera Selatan menjelaskan “Merujuk pada UUD 1945 Pasal 33 ayat 3, UUPA Nomor 5 Tahun 1960, TAP MPR Nomor 9 Tahun 2001 dan PP Nomor 86 Tahun 2018, kondisi diatas atas jelaslah ketimpangan penguasaan hak atas tanah antara segelintir orang yang berbadan hukum (korporasi) dengan Masyarakat (rakyat). Maka jalankan konstitusi atau manat UU itu, maka akan terwujud rasa keadilan hak atas tanah dengan REFORMA AGRARIA” Terang Asri

Asri Juga meminta kepada Aparat kepolisian untuk segera menangkap pelaku penyerangan cuka para kepada anggota STN desa Campang Tiga Ulu OKU Timur ” Segera Temukan Pelaku nya untuk pihak ke polisi dan untuk pemerintah daerah segar selesaikan Konflik Agraria yang Terjadi di OKU Timur antara masyarakat desa Campang Tiga Ulu denga PT LPI seluas 1322 Hektar.

Akhir nya konfrensi pers ini di Tutup dengan pemcaaan tuntutan utama .

  1. Usut tuntas pelaku dan sampai otak intelektual kekerasan dan pembunuhan yang dialami oleh petani.
  2. Stop Kriminalisasi terhadap petani yang sedang berjuang hak atas tanah.
  3. Segera Negara hadir dalam penyelesaian konflik agraria dan berikan rasa adil bagi Rakyat Tani.
  4. Jalankan dan wujudkan REFORMA AGRARIA SEJATI sesuai dengan amanah UU/Konsitusi kita Indonesia, sebagai solusi untuk kesejahteraan rakyat, penyelesain konflik dan mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (red)

  1. Usut tuntas pelaku dan sampai otak intelektual kekerasan dan pembunuhan yang dialami oleh petani.
  2. Stop Kriminalisasi terhadap petani yang sedang berjuang hak atas tanah.
  3. Segera Negara hadir dalam penyelesaian konflik agraria dan berikan rasa adil bagi Rakyat Tani.
  4. Jalankan dan wujudkan REFORMA AGRARIA SEJATI sesuai dengan amanah UU/Konsitusi kita Indonesia, sebagai solusi untuk kesejahteraan rakyat, penyelesain konflik dan mewujudkan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat In
Continue Reading

Berita

DPP IMM Minta Partai Dan KPU Patuhi Putusan MK Soal Larangan Mantan Pecandu Narkoba Maju Pilkada

Published

on

By

Jakarta, jarrakpossumatera|  Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mendesak Partai Politik tidak mengusung mantan pengguna narkoba sebagai calon kepala daerah pada Pilkada 9 Desember 2020. Sebab, Mahkamah Kontitusi (MK) sudah mengeluarkan putusan soal larangan tersebut.

Ketum DPP IMM Naji Prasetyo mengatakan, tidak hanya partai tapi juga penyelenggara Pemilu seperti KPU dan Bawaslu harus berpegang teguh apa yang sudah diputuskan MK itu. Keputusan MK yang bersifat final dan mengikat tersebut tidak boleh dilanggar. 

“Putusan MK itu harus menjadi perhatian penuh partai politik, KPU dan Bawaslu. Kita sebagai masyarat punya kewenangan mengawasi (putusan MK) ini,” ujar Naji saat dihubungi, Minggu (21/6/2020).

Menurut Naji, masyarakat sebagai pemilih calon kepala daerah harus menuntut partai politik dan penyelenggara Pemilu untuk tidak mengusung calon kepala daerah pecandu narkoba. Untuk itu , harus dibikin aturan dengan merujuk pada putusan MK, agar proses pelaksanaan Pilkada ini bersih dari calon-calon kepala daerah mantan pengguna barang haram tersebut.

“Kita sebagai pemilih harus menuntut komitmen partai. Partai harus punya peranan penting dalam proses aturan. Jadi ini tidak serta merta menjadi beban penyelenggara pemulu tapi komitmen partai yang punya domain penting untuk menghilangkan hal-hal (calon kepala daerah mantan pengguna narkoba) semacam itu,” katanya.

Lebih lanjut, Naji menambahkan bahwa Lembaga Pemantau Pemilu IMM sudah meminta KPU agar menuntut calon kepala daerah yang bakal berlaga di 170 daerah bersih dari obat-obatan terlarang. KPU tidak boleh membiarkan mantan pengguna narkoba lolos verifikasi. 

“Lembaga pemantau pemilu IMM juga mulai sudah menyarankan KPU untuk menuntut para calon agar bersih dari narkoba, yang berhububgan dengan obat-obatan terlarang,” tambah Naji.

Naji berharap, proses pelaksanaan Pilkada 9 Desember dilakukan dengan cara baik, bagus dan bermartabat. Cara-cara tersebut jangan hanya dipasrahkan kepada Penyelenggara Pemilu. 

“Tapi kita juga harus menuntut politisi dan partai politik melakikan cara baik, bagus dan bermatabat sehingga proses Pilkada berjalan baik, bagus dan bermartabat. Kita sebagai masyarakat punya kewenangan mengawasi. Kita akan melakukan pengawasan proses dan mekanisme yang sedang berjalan ini,” harap Naji. 

Untuk diketahui, MK sudah memutuskan mantan pengguna narkoba dilarang menjadi calon kepala daerah. Putusan MK ini berawal ketika mantan Bupati Ogan Ilir, Ahmad Wazir Noviadi, mengajukan permohonan uji materi aturan tentang syarat pencalonan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 Pasal 7 ayat (2) huruf i Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016.

Pasal tersebut adalah larangan bagi seseorang dengan catatan tercela mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Dan pemakai dan bandar narkoba dianggap perbuatan tercela.

MK menyebut pemakai narkoba dilarang mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah, kecuali dengan alasan kesehatan si pemakai yang dibuktikan dengan keterangan dari dokter.

Selain pengguna dan bandar narkoba, perbuatan tercela dalam putusan Mahkamah tersebut juga termasuk judi, mabok dan berzina. (Red/Danu/JPS)

Editor : Utu

Continue Reading

Trending